Sorry boo I just can’t help not to make gifs out of my favorite Vampire movie. Underworld deserves more attention than Twilight honestly. The chemistry between Selene and Michael totally gets my lonely heart shattered into pieces.

Sorry not sorry you have to see this lmao.

But if you’re following me then be prepared.

GIFS ARE MINE DO NOT TAKE THEM.

Another thing to work on: Frozen 

I have been working on this story idea for like a week now. And I’m still thinking for its title because really, would you read something titled as Disney’s another huge movie? No. Or yes. I haven’t really done any voting to know about it. But I guess I will still need a new title to go with this story.

It’s inspired by Taoris’ fic, Like Smoke—I tell you it’s a legend—only this time, Zitao is the spirit one and Yifan is the human. And Zitao isn’t just an ordinary spirit, he’s a winter spirit. I decided to make the scene in Russia because the winter there is so inhuman. Tho I’ve never been to Russia to feel the cold directly.

Here’s a sneak peek of its first chapter…

Yifan knew the moment he set his foot into his house that night, he wouldn’t enjoy the trip to Moscow his mother had arranged for them. He wouldn’t even call it as a trip. His great grandfather from his father’s side just died in his 145 years old. Such number could only be obtained by the people who were born from the past. In Yifan’s dictionary, lame old people. Yifan didn’t really like his family. Or anyone’s family. He just didn’t like the general idea of ‘family’.

“What’s wrong with you, darling?”

“Stop calling me with nicknames. I’m fucking 19.”

“Oh come on,” his mother ruffled his auburn hair. “you’ll always be my little boy anyway, Yifan.”

He rolled his eyes so hard. She always showered him with too much affection, even on public. And Yifan usually got laughed at by his friends at school because his mother kept picking him up after school like he was some kind of kindergarten student.

“I don’t understand why out of all the places in this world and grandpa had to choose Moscow as his hometown. This city is a damned place for humans.”

“Yifan!”

She pinched his ears. Making it even redder than before. The cold had turned them somehow. And thank’s to his mother’s pinch, they got even worst.

“Stop treating me like I’m a kid!” He hissed.

“Then maybe you should stop being an ungrateful teenager. Now go downstairs and say hi to your grandmother.”

Yifan’s eyes grew wide at that. “Not in a hundred years I would touch her.”

“And go unpack your luggages afterwards.”

“I can do that later.”

He was about to jump onto the bed when his mother pulled him up again and shoved him out of the room. The door closed right behind him and locked from the inside. He would have yelled at his mother to open the door if he didn’t remember he wasn’t in his own house. There would be only his grandmother now to take care of this creepy old European style mansion after the old man died. And Yifan swore every steps he made in the mansion, he could hear creepy creak followed.

“This cold is humid. How can people survive in this horrible weather,” he thought to himself.

Actually that’s all I’ve got for now. As I’ve told you before, fucking writer’s block keeps happening. And I need to make a poster for this story. I really need to learn how to make one properly. What is a fanfiction without a poster anyway?

But if you can make one for me, please don’t hesitate to collaborate because I may need your help in the mean time.

And I need a beta-reader as well. Because clearly, I’m not a native.

maybe this is not what i need. 

bipolar-yeoja:

navartierre:

bipolar-yeoja:

Lo pernah ga udh usaha dari titik yg paling bawah sampe atas tapi ternyata hasilnya ga sesuai yg lo pengen? iya. gue lg kyk gitu. iya ini semua masih seputar nyari kuliah.

Gimana?

Pertanyaan ini udh beberapa kali gue terima entah dari orang tua, guru, sodara, temen, satpam sekolah.

dan cuman…

Dulu gue kalo denger temen-temen gue yang nyoba semangatin gue waktu gue gagal, gue suka ga suka gitu sama mereka karena ada pikiran kalo “lo gatau apa yang gue rasain anjir.” Tapi gue gatau apakah lo mau menerima kata-kata gue hu :”( I feel you Tam, I really do. Beneran deh, because I was there halfway with you. Lo yang ngajarin gue buat keep strong waktu undangan menolak gue (well, us) mentah-mentah. Waktu itu gue sakit banget apalagi tahu gue sudah memberikan kursi gue buat orang lain. Gagal itu sakit, dan yang salah dari gue adalah gue suka menolak kebaikan dan support yang orang berusaha buat tawarkan ke gue :”

Jadi Tami harus strong. I will be your strength if you need me to. Because you were once my strength, you and my other friends who went through the failure with me. Gue-pun berpikiran sama kayak lo setiap kali gue ditolak univ. Like, what sin have I committed in my previous life to endure such obstacle?

Tapi Tami bisa, pasti bisa. Gue baca cerita lo kalo lo bisa masuk PTN itu bakal banggain kedua orangtua lo, tapi kalopun pahitnya lo berakhir di PTS, mungkin Allah tahu itu bisa memberikan lo jalan lebih luas buat membuat orangtua lo lebih bangga.

"Nothing beats the strength of a prayer," that’s what Sita ever told me. And I always remember that. {{}}

Hey, pal. Makasih ya din <3 gatau mau ngomong apa selain makasih <3 gue terharu ah baca tulisan lo. serius. tuhkan gue mau nangis lagi. UHUHUHUHU LO SIH AH CURUT WKWKWK. he inget bgt din, but you dont have to worry about it anymore karena lo udh dpt kursi yg layak di UGM. IHIHIHI. jujur, gue teriak din waktu liat timeline Line lo keterima UGM Hukum. Seneeeeeeng banget. Gue selalu ngerasa seneng sama kalian kalian yang udah dapet kuliah yang kalian pengen.

Sukses ya din kita berdua, btw :( pisah kita ya din :( kangen SMA gasih? gue sound kesambet tp gue kgn SMA. kita kan dulu suka ketawa ketawa sampe capek kalo lagi nonton EXO :( aplg ngehina Kris :( jago bgt gue sampe orgnya udh ga ada di EXO lg #EITS kgn gerecokin lo yg sibuk ngurus PPT, download lagu, nonton film, UHUHUHU

Gonna miss you so muchhhhh {}

Heeeunngg gue merasa ga enak lagi kan ;____; Gue selalu dihantui rasa “meninggalkan” kalo lo ngomong kayak gitu. Bukannya ga bersyukur udah dikasih rejeki, tapi jebal gue berharap kita semua loh yg dapet bukan cuma segelintir manusia. Apalagi lo, ya Allah lo udh gue anggep temen seperjuangan banget sama Macul juga :” Sampe H-1 tes SBMPTN pun kita masih say hi omaigat. Out of all people I know, I wish it was you yang mimpinya terkabulkan.

Of course I miss high school. Gue jujur belum siap pisah sama temen2 yang notabenenya masih di sekitar Jakarta, gue juga belum siap meninggalkan gemerlapnya Jawa bagian barat. Sekarang juga kalo nonton konser harus liat jadwal kuliah, harus pikir2 soalnya gue jauh di Jogja dan butuh duit transport. Kuliah bener2 bakal membatasi ruang gerak gue di bidang fangirl ahahah xD

Kalo lo keterima di Undip, bisa lah atur liburan bareng wkwk.

(eh Semarang - Jogja sejauh apa sih?) (geografi gue 7 di UN) (maapkeun)

ARTIST: Super Junior-M
TRACK: Swing (嘶吼)
ALBUM: Super Junior-M 3rd Mini Album <SWING>
2 plays

maybe this is not what i need. 

bipolar-yeoja:

Lo pernah ga udh usaha dari titik yg paling bawah sampe atas tapi ternyata hasilnya ga sesuai yg lo pengen? iya. gue lg kyk gitu. iya ini semua masih seputar nyari kuliah.

Gimana?

Pertanyaan ini udh beberapa kali gue terima entah dari orang tua, guru, sodara, temen, satpam sekolah.

dan cuman…

Dulu gue kalo denger temen-temen gue yang nyoba semangatin gue waktu gue gagal, gue suka ga suka gitu sama mereka karena ada pikiran kalo “lo gatau apa yang gue rasain anjir.” Tapi gue gatau apakah lo mau menerima kata-kata gue hu :”( I feel you Tam, I really do. Beneran deh, because I was there halfway with you. Lo yang ngajarin gue buat keep strong waktu undangan menolak gue (well, us) mentah-mentah. Waktu itu gue sakit banget apalagi tahu gue sudah memberikan kursi gue buat orang lain. Gagal itu sakit, dan yang salah dari gue adalah gue suka menolak kebaikan dan support yang orang berusaha buat tawarkan ke gue :”

Jadi Tami harus strong. I will be your strength if you need me to. Because you were once my strength, you and my other friends who went through the failure with me. Gue-pun berpikiran sama kayak lo setiap kali gue ditolak univ. Like, what sin have I committed in my previous life to endure such obstacle?

Tapi Tami bisa, pasti bisa. Gue baca cerita lo kalo lo bisa masuk PTN itu bakal banggain kedua orangtua lo, tapi kalopun pahitnya lo berakhir di PTS, mungkin Allah tahu itu bisa memberikan lo jalan lebih luas buat membuat orangtua lo lebih bangga.

"Nothing beats the strength of a prayer," that’s what Sita ever told me. And I always remember that. {{}}

Ugh 

Oh tentu saja saudara-saudara yang terhormat, saya suka sekali dengan kegiatan yang namanya menulis atau mengetik yha sama saja berhubung jaman sudah sangat maju jadi somehow gue jadi lebih sering ngetik daripada nulis pake tangan. And I feel guilty for that. Ya walaupun ketika ada ide cerita tentu gue masih coret-coret pake tangan di kertas tapi semakin ke sini gue perhatiin tulisan tangan gue makin ga menentu gue jadi suka heran sendiri ini tulisan siapa kok kayak ceker ayam banget ugh jelek gabisa kebaca.

5 seconds later baru sadar itu tulisan gue.

Tangan gue memang aneh, biasanya tiap abis liburan panjang gitu yang ga membutuhkan kegiatan menulis pake tangan, tulisan tangan gue langsung jadi jelek. Padahal JK Rowling yang udah punya jutaan kopi bukunya sendiri di seluruh dunia masih nyempetin nulis manual. Gue merasa gagal…

Oke, kembali ke topik pertama. Jadi kenapa dikasih judul ‘ugh’ soalnya inilah ekspresi yang gue tunjukin tiap kali gue kena gejala writer’s block. Kesel banget kalo writer’s block udah menyerang karena bisa menghentikan the creative flow of my brain.

Dan gue gatau gimana caranya mengatasi writer’s block. Gue jadi punya banyak cerita menggantung sekarang yang gue telantarkan di laptop ga keurus karena somehow gue bingung gimana mau ngelanjutinnya. Dan sedihnya adalah, beberapa cerita ini ada yang udah dipublish di AFF jadi gue jadi kayak merasa hutang sama orang yang udah baca cerita gue mueheheheh.

I need to overcome this so-called writer’s block for sure.

One day. Just not today 

I think my friends would mock me if they saw me being so sad like this after what happened to me, granted the wish to be able to make it as one of the new student in my dream university. But what I feel right now, is how you would feel to your best friend.

The man I care the most couldn’t make it into the university. Dan gue sangat, sangat, sangat sedih. Gue bahkan nangis because me of all people around him know best that he deserves to be in UI. Yep, dia ngincer UI udah dari lama, udah dari awal. Kalo gue kan ngincer UI cuma pas undangan doang, tapi kalo dia tuh udah ngincer UI sejak kelas X kali. And me of all people tahu gimana kapasitas dia untuk bersaing dengan orang-orang untuk masuk ke UI. Dia peraih nilai UN tertinggi di SMA-nya, kalo di tempat les selalu termasuk top 10, bahkan top 5 atau kadang-kadang top 3. Gue berguru sama dia, kalo belajar di tempat les selalu belajar bareng. Gue bahkan punya keyakinan besar dia bakal bisa masuk UI. I thought he was capable for the test, but, I guess I was wrong.

Dia: “Yah kan gue yang ga lolos, lo gausah sedih.”

Ya gimana gue ga sedih? Gue juga punya impian buat kuliah di UI, tapi mungkin ada saatnya ketika gue harus memilih langkah yang tepat karena gimanapun juga gue masih mau kuliah di PTN. Gue tahu kemampuan gue sendiri gimana, gue sadar diri sama daya juang gue, makanya gue langsung banting stir waktu tahu gue ga lolos undangan ke UI. Jadi ketika gue tanya dia apa dia masih bakal berjuang buat UI, he said yes and at that moment I told him, “gue titip sukses ya di UI. Belajar yang rajin biar bisa banggain gue.”

Waktu udah H-3 SBMPTN, gue udah take off ke Jogja karena gue ngambil tes di sana. Gue sekalian berdoa buat dia juga biar kita berdua bisa dikasih keberuntungan buat menjalani semua tes ke depannya dan semoga PTN yang kita mau bisa jadi rezeki kita. Days went by dan kita lama banget ga ngobrol di LINE. Gue mulai sibuk dengan diri sendiri, tes sana sini, ngurusin berkas sekolah, dan bahkan sama temen-temen sekolah sendiri juga jadi males ketemu karena gue stress mikirin PTN.

Sampe akhirnya di hari pengumuman UM dan gue keterima, gue masih belom ngabarin dia.

Dan baru kemaren malem pas gue lagi daftar ulang online, nyaris tengah malem, gue LINE dia.

Gue: “Hey, gimana Simak? Pengumumannya maju hari ini kan?”

It took him 5 minutes to reply me.

Dia: “Jadi anak Binus gue, hehe.”

I could hear my heart shattered to pieces. Gue sampe speechless dan yang gue suka dari LINE adalah ketika lo kehabisan kata-kata, ada stiker yang bisa menyampaikana perasaan lo. Jadi gue cuma menghujani dia dengan stiker buat melampiaskan kesedihan gue.

Dia: “Dirimu berduka karena hamba yang tak lulus, sakitnya tuh di sini…”

Hiks. Justru gue yang sakit, bodoh. Gue, bukan lo. Gue yang batin banget udah kayak gue tuh nyokap lo. Gue bukannya lebay atau berlebihan, tapi gue sebagai orang yang udah lama banget di samping lo dan mendengarkan semua rencana lo selama ini bener-bener sakit. Gue tahu rasanya kok. Gue juga melewati banyak kegagalan buat sampe ke step ini. Dan sejak pertama gue masuk ke kelas di tempat les, sampe kita sama-sama gagal di undangan, gagal di SBMPTN, gue kira pada akhirnya kita bakal sukses di ujian mandiri masing-masing. Karena gue juga pengen lo buat ngerasain apa yang gue rasain, rasanya diterima di fakultas impian lo di kampus yang lo idam-idamkan. Gue mau lo tahu perasaan itu. Karena itu bener-bener mindblowing banget. The happiness, pride, and the euphoria. Gue mau berbagi rasa itu sama lo. Tapi ga bisa karena lo ga lolos. Dan gue sedih.

Dia: “Gue mau buktiin kalo UI bukan segalanya.

Dia: “Bokap gue juga bilang kuliah di mana aja ga apa-apa.”

Dia: “Mungkin emang belum rejekinya.”

Dia: “Gue jadi terharu. Hehe, makasih ya.”

Dia: “Mungkin rejekinya sukses di kemudian hari, dapet cewek yang setia #ngarepreprep.”

Aslinya sih gue sempet dagdigdug tapi gue memutuskan buat ga ngebahas masalah hati because it wasn’t about us anymore, it was about him and him alone. Gue curhat gimana gue bisa dapet di FH UGM dan nyeritain juga gimana it feels so great to have one of your childhood dreams accomplished. Dia bilang memang itulah rejeki gue.

Dia: “Lo kerja keras di sana, jangan sia-siakan kursi yang udah lo dapet.”

Kata-kata itu persis sama apa yang bokap gue ucapkan. Dan gue janji, demi dia, demi perasaan gue buat dia, demi perjuangan gue dan semua hal yang udah dia lakukan buat gue dari awal, semua ilmu yang udah dia ajarin ke gue, gue janji gue bakal jadi mahasiswi yang membanggakan. Demi dia.

Gue sayang banget sama lo, mas. Dan gue peduli sama lo. Sukses gue adalah sukses lo juga.

Dia: “Kita sama-sama berjuang di kuliah buat sukses ke depannya aja, Din.”

Dia: “Kali ini gue titip sukses sama lo di UGM.”

Of course, I’d like that.

So see you on top then.

I’m gonna miss you a lot.

And all your rambles about economic.

Love you.

Miracles do exist. You just don’t see it yet 

Okay, how do I even start this time.

Jadi, ternyata hidup itu memang penuh rahasia dan kita ga bakal bisa tahu rahasia apa yang Allah simpen buat kita. Kita cuman bisa berdoa dan berusaha, berharap semoga apapun keputusan-Nya bisa selalu kita terima dengan lapang dada dan hati yang ikhlas.

Kemarin tanggal 18, gue berhasil memberikan kado terindah buat ultah nyokap yang ke-51. Kadonya yaitu gue berhasil diterima di fakultas hukum UGM. Yep, melalui jalur mandiri dan bukan SBMPTN. Gue seneng banget karena ini artinya perjuangan gue buat nyari sekolah selesai sudah dan kalo kemaren gue ga lolos lagi, harusnya hari ini gue ikut UM UNDIP. But no, fellas, change of plan! Karena walaupun hari ini drama lagi, tapi alhamdulillah gue berhasil melewatinya dgn gemilang :”

Gue bener2 udah gatau lagi, padahal gue ga lolos SBMPTN. Dan soal2 UM tuh gue bisa bilang termasuk satu tingkat di atas SBMPTN, tapi ternyata…? Siapa yang tahu? Waktu gue down karena gagal di SBMPTN, Allah ternyata nyiapin rejeki buat gue dua hari sesudahnya. Temen gue sih udah ada firasat gue keterima, cuma kata dia gue ga bakal keterima di pilihan pertama. Dan temen gue ini emang feelingnya kenceng banget jd the moment she told me that, gue langsung sholat dan berdoa semoga itu beneran.

Dan akhirnya bener kejadian.

Gue gabisa describe perasaan gue lagi, waktu baca kata “Selamat…” itu udah nano nano rasanya langsung sujud syukur ga berhenti2nya baca hamdalah. Yg gue makin ga percaya adalah itu gue diterima di pilihan pertama, jurusan yang paling diminati sama kelompok tes soshum tahun ini along with management and communication! Gue bangga gilak, padahal buat ujiannya aja gue ga ada persiapan belajar sama sekali, ga baca buku, ga ngapa2in cuma latihan TPA itu juga H-1. Gue bener2 dateng cuma bawa badan dan modal otak bekas perjuangan SBMPTN trus duduk, kerjain, pulang. Gue udah speechless sama diri gue sendiri. UM yg lebih susah dr SBMPTN, gue ga belajar, tapi bisa diterima lewat jalur itu?

Wouldn’t you say it’s a miracle?